
|
SENI TRADISIONAL GARUT
Senin, 10 Maret 2014 @ 02.43 | 6 Comment [s]
Seni Tradisional Garut
Kesenian ini merupakan sebuah kesenian pertunjukan akrobatik
dalam seutas tali sepanjang 6 meter yang dibentangkan dan dikaitkan diantara
dua buah bamboo dengan ketinggian 12 sampai 13 meter.
Kesenian Lais di ambil dari nama seseorang yang sangat
terampil memanjat pohon kelapa yang bernama ”Laisan” yang sehari-hari di
panggil Pak Lais.
Lais ini sudah dikenal sejak zaman penjajahan Belanda,
tempatnya di Kampung Nangka Pait, Kec. Sukawening. Atraksi yang di tontonkan mula-mula
pelais memanjat bambu lalu pindah ke tambang sambil menari-nari dan berputar di
udara tanpa menggunakan sabuk pengaman dengan diiringi musik reog, kendang
penca, dog-dog dan terompet.
Pencak Silat
Pencak Silat adalah olah raga seni beladiri, yang merupakan
ciri khas kebudayaan etnis sunda. Dilihat dari unsur seni, pencak silat
merupakan seni budaya yang sangat menarik untuk ditonton (SiIlat Ibing),
permainan seni pencak silat ini biasanya diperagakan dengan diiringi musik
gendang, terompet, dan lain sebagainya.
Surak Ibra
Boboyongan dengan nama lain Surak Ibra, diciptakan oleh Rd.
Djadjadiwangsa putera Rd. Wangsa Muhammad (Pangeran Papak) pada tahun 1910 di
Kampung Sindangsari Desa Cinunuk Kecamatan Wanaraja. Kesenian ini menggambarkan
keinginan masyarakat untuk mempunyai pemerintah dan pemimpin sendiri, dengan
semangat kebersamaan untuk memupuk rasa persatuan dan kesatuan antara
pemerintah dan masyarakat.
Kesenian ini didukung oleh 40 sampai 100 orang pemain,
dengan alat kesenian yang digunakan seperti kendang penca, angklung, dog-dog,
kentongan dan lain-lain. Kesenian ini juga berupa sindiran/protes terhadap
pemerintahan Belanda yang bertindak sewenang-wenang terhadap masyarakat
pribumi.
Merupakan kesenian tradisional dari Kec. Samarang. Pencak
silat ini tidak jauh berbeda dengan pencak silat yang ada, hanya selain
mendemontrasikan jurus-jurus silat, pesilat itu membawa ular berbisa dalam
atraksi. Kelebihan lain pesilat bisa menjinakan ular-ular itu bahkan kebal
terhadap gigitannya.
Merupakan salah satu seni tradisional asal Garut yang tumbuh
dan berkembang di Desa Bojong Kecamatan Bungbulang.
Lahirnya seni Hadro ini tidak terlepas dari syiar agama
Islam, untuk pertama kalinya di perkenalkan oleh Kyai Haji Suradan dan Kyai
Haji Ahmad Sayuti yang berasal dari Kampung Tanjung Singuru Kecamatan Samarang
pada tahun 1917.
Kesenian Hadro merupakan gabungan dari lagu-lagu keagamaan
(lagu shalawat) yang diikuti dengan gerakan jurus silat. Kesenian ini merupakan
syiar islam dan belajar bela diri untuk melawan penjajah. Pakaian yang di
gunakan adalah pangsi, iket (tutup kepala ) dan selendang merah, peralatannya
bedug, terompet kompeng dan dog-dog.
Debus
Merupakian kesenian
tradisional yang berasal dari Pameungpeuk . Kesenian ini di ciptakan oleh
seorang penyebar agama islam yang dikenal dengan nama Ajengan (Ustad).
Tujuannya untuk menarik masa dalam kepentingan menyebarkan agama, menggunakan
tetabuhan dari batang pohon pinang dan kulit kambing. Selain melatih seni
tetabuhan, pemain debus juga di ajarkan ilmu kemahiran jasmani dan rohani serta
ilmu kekebalan, baik kebal terhadap benda-benda tajam maupun kebal terhadap
pukulan.
Awalnya terinspirasi oleh hewan domba yang merupakan
kebanggaan dan ciri khas masyarakat Garut. Berangkat dari sanalah masyarakat
Desa Panembong Kecamatan Bayongbong mengangkatnya ke dalam tarian yang
dinamakan seni tari dodombaan yang merupakan seni laga domba. Antraksi ini
biasanya diiringi pula oleh musik dan seni tari tradisional, sehingga secara
keseluruhan menampilkan atraksi hiburan yang berbeda dan menarik.
Seni tari Bangklung
merupakan perpaduan dari kesenian tradisional masyarakat Garut yang diantaranya
adalah seni musik tarebang(rebana) dan kesenian Angklung Madud. Perpaduan
kesenian ini menghasilkan kesenian baru yang sangat indah dan serasi kemudian
diberi nama Bangklung pada tanggal 12 Desember 1968. Namun demikian, kesenian
Tarebang dan Angklung Madud dapat dimainkan secara terpisah.
Jumlah pemain seluruhnya 27 orang, masing-masing membawa
alat musik tarebang (rebana), angklung, beluk (vokal), terompet, keprak dan
seorang badut. Lagu-lagu yang dibawakan adalah lagu sunda dan shalawat.
Gesrek
Gesrek terdapat di
kampung Kamojang Desa Pakenjeng Kecamatan Pamulihan. Kesenian tradisional ini
disebut juga Seni Bubuang Diri (Mempertaruhkan Nyawa).
Atraksi yang
dipertontonkan oleh pemain gesrek yaitu memainkan golok-golok yang tajam sambil
mendemonstrasikan jurus silat, lalu golok itu di tusukkan ke perut, tangan dan
lidahnya diiris-iris tanpa ada luka sedikitpun (tidak mempan).
Selain itu pemain
dipukul oleh sebatang bambu dan bergulung-gulung atau berjalan di atas bara
api. Pemain Gesrek terdiri dari 10 orang pemegang golok dan didukung oleh 4-7
orang yang bertugas menyediakan peralatan dan menjaga apabila ada orang yang
mengganggu.
Badeng
Badeng suatu jenis
kesenian tradisional dari Desa Sanding Kec. Malangbong. Kesenian ini di
ciptakan pada tahun 1800 oleh penyebar Agama Islam bernama Arfaen atau lebih
dikenal dengan nama Lurah Acok.
Badeng suatu jenis
kesenian sebagai media untuk menyebarkan Agama Islam dengan cara membawakan
lagu-lagu sunda buhun dan sholawatan. Badeng itu sendiri artinya bermusyawarah
atau berunding, alatnya terdiri dari angklung kecil dan besar serta dog-dog
lonjor.
Cigawiran
Seni tradisional Cigawiran termasuk kelompok cabang seni
Karawitan Sekar, bukan seni petunjukan .Seni tradisional ini hampir sama dengan
Beluk, Cianjuran Sumedang dan Kawih (Karawitan Sekar).
Tembang Cigawiran lahir di Desa Cigawiran, Kecamatan
Selaawi.
Lainnya :
Kabupaten Garut masih banyak lagi memiliki seni budaya
tradisional peningggaln leluhur di berbagai tempat. Beberapa diantarnya adalah
: Pantun Beton dari Pameungpeuk, Janjani, Gondang, Mapacat, Rampak Kohkol, Oyong,
Nangkolong, Manasikan, KarimbingSeni Tradisional
acat, Rampak Kohkol, Oyong, Nangkolong, Manasikan, Karimbing
Sumber :
-
Garutkab.go.id
|
The Disclaimer underlined, bold blockqoute
Navigations! Let's Talk!
The Credits! |