
|
Profile Dr.Ir.H.Abdusy Syakur, M.Eng
Senin, 21 April 2014 @ 02.30 | 0 Comment [s]
DR. Ir. H.
Abdusy Syakur, M.Eng
Alam begitu
senyap. Angin sepoi-sepoi begitu setia membelai pucuk-pucuk daun. Nun jauh di
atas sana, sungguh langit nampak menawan, bintang-gemintang dan cahaya rembulan
yang menyepuh jagad bumi dengan warna keperakan, membuat jagad bumi sungguh
seperti sedang dipingit oleh suasana indah itu. Saat itu, jarum jam menunjuk
angka 01.40 dini hari. Itu berarti hari beranjak beringsut dari jumat ke
hari Sabtu tanggal 6 Januari 1968.
Dalam pergantian hari yang pelan dan senyap itulah di
RSUD dr. Slamet Garut, lahir seorang bayi mungil yang ditunggui Sang Kakek,
yaitu Prof. K. H. Anwar Musaddad (alm), beliaulah orang pertama yang
menggendong, menimang dan mengumandangkan adzan pada telinga kanan sang bayi,
alunan iqamah pada telinga kirinya. Kemudian diteruskan shalawat dan doa-doa
khusus untuk sang jabang bayi, agar kelak ia menjadi orang yang berbakti pada
keluarga besarnya, berguna untuk bangsa, negara dan senantiasa menyalakan api
petunjuk untuk jalan shirathal mustakim, meski, ya meski itu hanya seperti
sebatang lilin di tengah kegelapan. Bayi ini kemudian oleh orang tuanya
diberi nama Abdusy Syakur Amin, sebagai wujud rasa syukur dari hamba Allah.
Sewaktu balita, dalam kehangatan kasih sayang ibunya,
Prof. Dr. H. Ummu Salamah, M.S. Lantunan shalawat-shalawat atau nadhoman
senantiasa mengikuti atau menjadi teman akrab perkembangan sang bayi.
Sang Ayah, Prof. K. H. Cecep Syarifuddin (alm), memperlakukan anaknya istimewa.
Kerapkali, kehidupan masa kecilnya harus berbeda dengan teman-teman
sepermainannya, penuh dengan pembiasaan dan kedisplinan. Sang ayah paham betul,
bahwa anak adalah amanah, yang kelak tidak sekadar sebagai investasi yang
paling berharga di dunia, tapi juga di akhirat. Karenanya mendidik dengan benar
dan sungguh-sungguh adalah segalanya. Mendidik artinya menanamkan nilai-nilai
yang baik dan menancapkan bekal moral pada sang anak, dan tidak sekedar
memasrahkan sepenuhnya pada bangku sekolah atau cukup hadir di majelis pengajian.
Dampak dari pendidikan yang baik itulah, membuat
Syakur kecil, sudah bercita-cita menjadi guru atau pendidik, sebagaimana
pekerjaan Sang ayah dan kakeknya. Saban hari, tiada waktu selain berkutat
dengan ilmu, kitab dan para murid. Bahagianya adalah saat sang murid bisa
membaca kitab kuning dan pulang kampung merintis lembaga pendidikan.
Dari kakeknya, darah seorang guru mengalir melalui
ayahnya. Bahkan jauh sebelum kakeknya, darah guru telah mengalir bahkan
dari titik yang tak terketahui betul, dari leluhur mana darah guru itu
mengalir.. Namun apapun itu, Syakur selalu bersyukur, karena ia ditakdirkan
sejak kecil, besar dan tumbuh di lingkungan lembaga pendidikan dan pesantren.
Baik secara akademis maupun religi, masa muda Syakur
dipenuhi dengan lingkungan keluarga yang baik pendidikannya. Sejak duduk
di bangku Sekolah Dasar Negeri Kiansantang Garut, Syakur sudah tercatat sebagai
murid yang berprestasi. Nilai sekolahnya bagus, nilai agamanya juga
bagus. Sejak kecil, Syakur telah dididik orang tua dan keluarga besarnya
untuk menjadi santri yang intelek. Orang tuanya, tahu betul bahwa orang menjadi
pintar saja tidak cukup, tapi juga harus terampil dan menjadikan agama sebagai
basis moralnya. Karenanya, kedua orang tuanya telah berusaha semaksimal mungkin
untuk mendidik Syakur menjadi manusia yang bagus akademiknya, bagus pula
agamanya.
Setiap sore selepas asar, biasanya Syakur akan
dilarang orang tuanya untuk tidak bermain jauh-jauh dari rumah. Syakur sadar
bahwa berangkat mengaji sebelum magrib dan pulang setelah isya adalah satu
kewajiban yang tak bisa ia tinggalkan. Selain karena alasan bisi
dibendu ku bapak, ia juga merasa bahwa di pengajian lah ia menemukan
keceriaannya. Di sana, banyak sekali teman yang membuatnya betah di
pengajian.
Sama halnya dengan anak-anak sebayanya. Biasanya
anak-anak tidak betah tinggal terus menerus di rumah. Mereka akan senang jika
bermain bersama teman-temannya. Karena di rumah, anak-anak merasa tak
menemukan dunianya. Mereka butuh lingkungan yang akan membangun dunia
mereka sendiri. Dan tugas orang tua adalah mengawasi lingkungan
anak-anak, agar lingkungan yang ada terbentuk dengan baik, berjalan sesuai
keinginan, dan menghasilkan karakter yang baik bagi anak.
Di pengajian, Syakur kecil sudah dibasuh oleh kalimat tahlil
dan belajar banyak sekali nadhoman yang sebenarnya ia sendiri tak tahu
betul apa arti kata per katanya. Yang ia tahu hanyalah bacaannya seperti
itu, biasa dibaca di waktu-waktu tertentu, dan ia senang ketika dibaca bersama
teman-teman. Budaya itu telah hadir di Syakur kecil sejak usianya masih
anak SD, meskipun kesadaran akan pentingnya budaya baru hadir jauh setelah masa
itu. setiap magrib akan tiba, anak-anak kecil polos itu akan duduk
berjajar di shaf salat paling depan, bersanding dengan bapak-bapak tua.
Mereka akan melantunkan pujian-pujian yang menjadi khas di daerah tersebut.
Eling-eling umat, muslimin muslimat
Hayu urang solat, berjama’ah magrib
Estu kawajiban urang keur di dunya
Kangge pibekeleun urang di akherat
Anu ngalanggengkeun solat berjama’ahna
Kenging lima rupi kauntungannana
Hiji dileungitkeun kapakirannana
Dua dileungitkeun siksaan kuburna
Tilu dibere buku ti katuhuna
Opat bakal ngaliwat kana cukangna
Taya kilat nyamber babaning cepetna
Lima teu dihisab asup ka cukangna
Sungguh, sampai matipun, Syakur rasanya takkan mampu
melupakan nadhoman itu, dengan kenangan masa kecil yang amat membahagiakan,
meskipun sekarang ia mengakui sudah jarang sekali yang melantunkannya.
Pada masa puber, Abdusy Syakur Amin menjadi siswa di
SMP Negeri 2 Garut, dilanjutkan di SMA Negeri 3 Bandung. Pada saat
indentitas siswa SMA disandangnya, Syakur sempat merasakan bagaimana indahnya
mendapat pengalaman berharga sebagai Duta Siswa Indonesia di ajang Student
Exchange Lion Group, Sidney Australia pada tahun 1987. Di masa
inilah, Syakur mulai berani bermimpi tentang luasnya dunia.
Bagi banyak orang mungkin bermimpi memang seperti
pekerjaan yang aneh, mengharapkan yang masih jauh kedatangannya, namun bagi
Syakur mimpi mampu memberi kekuatan bagi diriinya. Cikaracak ninggang
batu, laun-laun jadi legok. Syakur yakin dengan dirinya sendiri bahwa
jika mimpi itu diusahakan meskipun sedikit demi sedikit, Syakur akan mencapai
mimpinya. Kata-kata yang selalu ia ingat dari gurunya adalah, BERMIMPILAH
SETINGGI LANGIT, JIKA ENGKAUPUN HARUS TERJATUH, ENGKAU AKAN JATUH DI ANTARA
BINTANG-BINTANG.
Dengata semangat itulah, ia menjalani hari-harinya
dengan penuh semangat, aktif di berbagai organisasi, seperti di Pramuka, Syakur
mulai menyusun rencana hidupnya perlahan namun pasti. Di Pramuka, ia tidak
hanya belajar baris berbaris dan menghafal sejarah Pramuka yang panjang lebar,
tapi juga ia belajar bagaimana cara terbaik untuk mencintai alam dan
mengelolanya, karena bagaimana pun, alam adalah aset paling mahal yang dimiliki
manusia. Bukankah Indonesia bisa dijuluki Negeri Serambi Surga karena
kekayaan alamnya yang luar biasa?
Selepas seragam SMA, ia diterima di Institut Teknologi
Bandung, di Jurusan Teknik Industri. Ketika kuliah, Syakur memilih untuk
menjadi anggota Resimen Mahasiswa Mulawarman Batalyon I. Spontan saja,
keberaniannya untuk bermimpi semakin besar, begitupun dengan pengalaman
dana cara berpikirnya. Sosoknya yang kritis telah menjadi kekuatan besar
bagi dirinya sehingga lahir keinginan untuk memajukan Garut yang masih saja
dihantui stigma daerah tertinggal. Melihat potensi Garut dalam banyak
hal, membuat Syakur, menjadi gereget untuk turut memajukan Garut dengan
terjun langsung ke lapangan. Jiwa kepramukaan yang dimilikinya masih saja
menancap kuat dalam pikiran dan jiwanya bahwa alam adalah aset terbaik yang
harus dikembangkan. Dan melihat Garut adalah melihat betapa kayanya alam
Garut yang masih saja belum terkelola dengan baik. Sebagaimana misi yang
dibawa dalam cita-citanya yaitu memajukan Garut melalui potensi alam yang
dimiliki, sebagai media yang tidak hanya memajukan Garut, tetapi juga
mensejahterakan rakyatnya. Selain itu, Syakur juga berkaca pada masa
kecilnya yang kaya akan budaya dan nilai-nilai religius. Syakur
memandang, Garut juga merupakan bagian dari Kota Santri yang memiliki karakter
khas dan tidak dimiliki daerah lain. Ini juga merupakan nilai tambah yang
perlu dijaga kelestariannya, sehingga Garut memiliki karakter beragama yang
baik.
Setiap kali Syakur duduk di teras rumah, khususnya
sebelum adzan magrib atau sebelum adzan subuh, Syakur tak lagi bisa
mendengarkan nadhoman dan puji-pujian yang dikumandangkan anak-anak kecil
seperti masa kecilnya dulu. Tentu saja, ada rasa khawatir yang menganggu
dalam benaknya. Seperti luka yang menganga namun belum sempat
terobati. Nadhoman-nadhoman dan puji-pujian itu sekarang ini lebih sering
dikumandangkan kakek-kakek lanjut usia yang suaranya sudah parau dengan napas
yang tersengal-sengal. Di manakah generasi mudanya? Pertanyaan yang menggantung
dan sulit ditemukan jawabannya. Kemajuan zaman tidak selamanya membuat
kehidupan ini menjadi lebih baik. Karena di sisi lain, harus ada yang
dikorbankan bahkan harus rela kehilangan jati diri. Budaya nadhoman,
salawatan, puji-pujian sudah sulit ditemukan. Jangankan di kota besar, di
Garut yang lingkungannya masih alami saja hal tersebut sudah jarang ditemui.
Selepas dari ITB, takdir mengantarkan Syakur terbang
ke Negara Gajah. Di Asian Institute of Technology (AIT), Bangkok,
Thailand, ia meneruskan studi S2-nya di jurusan Industrial Engineering and
Management. Sejauh jarak Garut-Bangkok, sejauh itu pula pengalaman
dan jaringan pergaulannya. Pandangannya mengenai suatu hal tidak lagi
dengan cara berpikir budak Garut, atau cara berpikir mahasiswa ITB, tapi
sudah berusaha masuk pada cara berpikir mahasiswa internasional. Mimpinya
sudah tidak lagi tentang menjadi guru ngaji seperti kakeknya, tapi sudah
tentang bagaimana caranya agar para orang-orang pintar di negeri ini juga bisa nyantri
agar pendidikan agama menjadi pondasi kuat dalam membangun bangsa.
Selama di Bangkok, Syakur sempat menjadi President
Moslem Students Association, sebuah organisasi mahasiswa muslim yang
tinggal dan belajar di AIT, Bangkok. Di organisasi ini, ia tidak hanya
menjadi ‘imam’ bagi pelajar muslim dari seluruh penjuru negeri yang belajar di
Bangkok, ia juga menjadi panutan bagi banyak orang. Karena bagaimanapun,
sedikit banyak ia harus belajar lebih banyak ilmu agama dan kembali berusaha
mengingat budaya Islam yang ditanamkan Kakek-Neneknya sewaktu kecil, dan
melaksanakannya di lingkungan berbeda, dengan tantangan berbeda, lingkungan
berbeda, orang-orang yang berbeda, dan zaman yang berbeda.
Dari Bangkok, ia masih saja merasa haus akan ilmu
sehingga pendidikannya masih terus diteruskan da dilanjutkan untuk mencapai
mimpi kedua orang tuanya, menjadi pribadi akademis yang agamis. Di
University of Malaya, Malaysia, ia meneruskan perjuangannya hingga menjadi
Doctor Economics Development.
Saat ini, Dr. Ir. H. Abdusy Syakur Amin, M.Eng.
menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik di Universitas Garut. Pria
kelahiran Garut, 6 Januari 1968 ini memboyong harapan dan cita-cita yang besar
untuk tanah kelahirannya. Mengutamakan pendidikan, memajukan sumber daya
manusia, serta menciptakan Garut yang maju dan bebas dari label daerah
tertinggal.
Selain dikenal sebagai akademisi yang aktif di banyak
tempat, ia juga merupakan seorang santri. Kehidupannya tumbuh besar di
lingkungan komunitas sarung, sehingga dari sanalah ia belajar bagaimana
kesederhanaan mampu melahirkan kesuksesan. Kebanggaannya menjadi seorang
santri ia torehkan melalui organisasi keislaman seperti menjadi Pengurus
Wilayah GP Ansor Jawa Barat, Ketua Dewan Penasehat GP Ansor Kab. Garut, Ketua
Dewan Pakar Ikatan Sarjana NU (ISNU) Kab. Garut, dan Pengurus Yayasan
Al-Musadaddiyah Garut. Selain organisasi keislaman, ia juga aktif menjadi
Pembina Garut Defense Fighting Club (GDFC), Ketua Umum PBVSI Kab. Garut,
Sekretaris Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kab. Garut, Wakil
Ketua Bidang KLN Kamar Dagang Indonesia (KADIN) Kab. Garut, Ketua Bidang
Organisasi Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Kab. Garut, dan Pembina
Yayasan Universitas Garut.
Leadership skill yang dimiliki tumbuh kembang dalam banyak kegiatan
kepemimpinan, baik di tingkat lokal maupun internasional. Pada tahun
1998, Syakur diberi kesempatan untuk mengikuti program The Friendship
Programme for Leader in 21th Century, Japan International Cooperation Agency
(JICA) di Tokyo, Jepang. Sejak itu pula, ia mempunyai banyak kesempatan
untuk menghadiri acara-acara internasional di banyak tempat. Tidak hanya
di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Selain menghadiri acara
internasional, ia juga sering kali mempresentasikan makalahnya di Mexico, Austria,
Taiwan, China, Vietnam, Malaysia dan Thailand.
Syakur juga merupakan Ketua Pelaksana Pekan Olah Raga
Kabupaten Garut (PORKAB) pada tahun 2012 lalu, dan Ketua Pelaksana Seminar
Refleksi, Orientasi, Visi dan Aksi Garut 2 Abad, 2013.
Kali ini, Dr. Ir. H. Abdusy Syakur, M.Eng. memiliki
keinginan yang besar untuk memberikan banyak khidmah bagi banyak orang.
Dimulai dari diri sendiri, ia tidak merasa sudah cukup dengan apa yang
diraihnya hari ini. Tapi setidaknya, ia selalu merasa bahagia ketika
melihat istrinya, Hj. Tinneke Hermina, ST., M.Si., yang sebentar lagi
akan menyelesaikan studi S3-nya di Ilmu Ekonomi Universitas Padjajaran.
Begitu juga ketika melihat keempat anaknya yang tumbuh kembang dengan baik, ia
akan tersenyum simpul. Ada perasaan puas dalam dirinya ketika mampu
melihat anak-anaknya dan keluarganya terdidik dengan baik. Meskipun tak
pernah ia bahasakan, tapi senyumannya sudah cukup membahasakan lebih banyak
kata dari pada apa yang seharusnya ia katakan.
Mencalonkan diri sebagai bagian dari pemegang
kebijakan di Kabupaten Garut adalah salah satu cara untuk Syakur mengamalkan
ilmu yang dimilikinya. Dengan cara memajukan sumber daya manusia melalui
pendidikan dan budaya serta pembentukan karakter yang baik, merupakan salah
satu senjata jitu untuk menjadikan Garut sebagai daerah yang maju dan
unggul. Selain itu, pengetahuannya tentang ilmu ekonomi mengantar Syakur
berpandangan bahwa Garut adalah daerah strategis yang menjadi pintu gerbang
bagi kemajuan Jawa Barat di daerah Selatan. Tentu saja, posisi strategis
ini merupakan satu aset yang tidak dimiliki daerah lain, sehingga apabila
dikelola dengan baik, Garut memiliki nilai tambah yang akan menjadikan Garut
menjadi begitu istimewa.
Buat Syakur, keinginan untuk menjadi wakil bupati
Garut semata lahir dari keinginannya mengabdi yang dilandasi pemahamannya atas
hadist Nabi, yang menyatakan bahwa “Sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang
memberikan kontribusi terbaik bagi sesamanya”.
Mereka berdua adalah warga Garut yang berkeiginan
untuk mewujudkan Garut yang adil, makmur, maju, dan bermartabat, dengan
filosofi penghidmatan “”.
Alangkah indahnya, ketika kita sebagai masyarakat
Garut dapat melibatkan diri secara aktif sebagai bagian dari mereka, dengan
mendukung dan memilih pasangan AKUR (H Agus Hamdani dan H A Syakur Amin)
pada Pemilukada Garut 2013 tanggal 8 September 2013, dan mengisi serta mengawal
perjalanan mereka sebagai bupati dan wakil bupati Garut periode 2014-1019.
Sebagai penutup, semoga Allah senantiasa memberikan
taufiq dan hidayahnya pada kita semua, serta memberkati dan memberkahi
Kabupaten Garut yang kita cintai.
sumber : http://www.akuronline.com/dr-ir-h-abdusy-syakur-m-eng
|
The Disclaimer underlined, bold blockqoute
Navigations! Let's Talk!
The Credits! |